PGRI BONDOWOSO

PENDEKATAN LEARNING EXPERIENCE APPROACH

PENDEKATAN LEARNING EXPERIENCE APPROACH

========================================================

 

          Pengalaman adalah guru terbaik bagi seseorang. Dengan kata lain seseorang dapat belajar dari atau melalui pengalaman. Untuk memahami makna experiental learning, yang berarti belajar melalui penghayatan langsung atas pengalaman yang dialami.  Belajar melalu experience learning mengacu pada proses belajar yang melibatkan siswa secara langsung dalam masalah atau materi yang sedang dipelajari.

Pada hakikatnya experience learning mengandung 4 syarat yaitu :

  1. Siswa bertanggung jawab terhadap jenis belajar yang ingin dicapainya.
  2. Lebih dari hanya sekedar melibatkan proses kognitif,
  3. Dapat mencakup tujuan belajar pada aspek keterampilan dan efektif.
  4. Siswa harus mengalami proses belajar yang aktif secara fisik dan psikologis.

Ciri – ciri experience learning :

  1. Siswa terlihat aktif dalam melakukan pembelajaran.
  2. Adanya relevansi antara topik pada experience learning.
  3. Tanggung jawab siswa harus ditingkatkan.
  4. Penggunaan experience learning bersifat luwes.

Karakteristik belajar melalui pengalaman :

  1. Belajar lebih dipersiapkan sebagai proses, bukan hasil.
  2. Belajar adalah suatu proses yang berkesinambungan yang berpijak pada pengalaman.
  3. Proses belajar menuntut penyelesaian pertentangan antara modus-modus dasar untuk beradaptasi dengan lingkungan.
  4. Belajar merupakan proses adaptasi terhadap dunia luar secara utuh.
  5. Belajar merupakan transaksi antara individu dengan lingkungan.

PENDEKATAN LEA ( Language Experience Approach)

Pendekatan Pengalaman Berbahasa merupakan alih kata dari istilah Language Experience Approach (LEA). Seperti dikutip oleh Harjasujana(1997:196-197) bahwa Huff mendefinisikan LEA berdasarkan makna yang terkandung dalam unsur-unsur kata pembentuknya, terutama kata experience dan language. Menurut Huff, experience merupakan pengalaman seseorang yang diperoleh dari aktivitas tertentu. Sementara itu, language merupakan cerminan dari empat aspek keterampilan berbahasa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. LEA dimaknai sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran berbicara yang melibatkan kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sebagai cerminan dari pengalaman berbahasa anak.

Menurut Harjasujana (1997:197), hal-hal yang harus diperhatikan dalam Pendekatan Pengalaman Berbahasa (PPB) adalah :

  1.  PBB merupakan suatu pendekatan pengajaran.
  2. Materi ajar digali dari pembelajar sendiri atau pengalaman berbahasa si pembelajar itu sendiri.
  3. Pelaksanaan pembelajarannya melibatkan seluruh aspek keterampilan berbahasa siswa secara integratif.
  1.  Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Pengalaman Berbahasa

Keunggulan Pendekatan Pengalaman Berbahasa adalah sebagai berikut.

  1. Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa dimulai dengan soal perkembangan bahasa anak. Maksudnya, materi bahan ajar yang digunakan untuk pengajaran berbicara sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa anak. Tugas untuk memilih bahan yang cocok menjadi ringan karena wacana yang digunakan sudah dengan sendirinya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa anak.
  2. Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa mengintegrasikan semua kegiatan kebahasaan. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, anak-anak mendengarkan, berbicara, membaca, dan terkadang menuliskan wacana yang tengah dikembangkan.
  3. Pendekatan Pengalaman Berbahasa mempunyai sifat wajar.
  4.  Pendekatan Pengalaman Berbahasa tidak memerlukan banyak biaya.

Kelemahan Pendekatan Pengalaman Berbahasa adalah sebagai berikut.

  1. Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa hanya digunakan pada pengajaran penguasaan ketrampilan berbahasa tingkat awal. Selanjutnya, Pendekatan Pengalaman Berbahasa dapat dikembangkan pada pengajaran penguasaan keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis untuk tingkat lanjut. Hal ini dapat dikembangkan karena ada anak-anak yang duduk di kelas atas namun kemampuan penguasaan keterampilan berbahasanya masih berada pada peringkat permulaan.
  2.  PBB menuntut waktu yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pendekatan yang lain.
  3. PBB menuntut agar selalu menyadari adanya sejumlah keterampilan dan sejumlah kosakata sehingga guru harus mengetahui apa yang akan diajarkan dan kapan mengajarkannya.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan pengajaran kemampuan berbahasa dengan menggunakan pendekatan pengalaman berbahasa ada beberapa keunggulan dan kelemahan di dalamnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kelemahan-kelemahan tersebut diatasi terlebih dahulu.

Cara mengatasi kelemahan tersebut diantaranya sebagai berikut:

  1. Guru terlebih dahulu harus mengetahui taraf keterampilan berbahasa siswa. Setelah itu guru dapat menerapkan Pendekatan Pengalaman Berbahasa dalam pembelajaran keterampilan berbicara.
  2.  Karena Pendekatan Pengalaman Berbahasa menuntut waktu yang lebih banyak dari metode yang lain, maka guru terlebh dahulu membuat metode yang tepat dalam pembelajran berbicara denga Pendekatan Pengalaman Berbahasa, sehingga dalam waktu yang relatif singkat tujuan pembelajaran dapat tercapai.
  3.  Karena dalam pembelajaran menggunakan Pendekatan Pengalaman Berbahasa melibatkan semua keterampilan berbahasa seperti menyimak, membaca, dan menulis, serta sejumlah kosakata, maka guru harus dapat memilih tema-temayang sesuai dengan kemampuan berpikir anak, dan kapan harus mengajarkannya kepada siswa.

1. Tujuan dan Asumsi Pendekatan Pengalaman Berbahasa

Menurut Space (Harjasujana, 1997:198) asumsi dasar penggunaan PBB ini adalah ekspresi bahasa lisan siswa yang didasarkan pada pikiran, perasaan, dan pengalamannya sendiri yang dapat ditulis dan dibca. Kegiatan ini dapat disamakan sebagaimana halnya siswa membaca ide-ide orang lain yang telah dituangkan ke dalam wujud tulisan.

Menurut Huff (Harjasujana, 1997:198) Pendekatan Pengalaman Berbahasa menganut pandangan bahwa anak-anak akan lebih mudah mengenali tulisannya sendiri, karena kata-kata yang tertuang dalam tulisan tersebut merupakan refleksi atau cerminan dari kehidupannya sehari-hari. Bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang akrab dengan kehidupannya yaitu bahasa yang menggambarkan latar belakang pengalaman pribadinya.

Pendekatan Pengalaman Berbahasa merupakan suatu pendekatan yang bisa digunakan untuk pengajaran berbicara yang diikuti oleh keterampilan berbahasa yang lain yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Bahasa lisan anak merupakan landasan utama dalam pengelolaan pembelajaran berbicara. Pendekatan Pengalaman berbahasa ini sangat menekankan arti pentingnya kondisi awal pembelajar dalam hal kemampuan bahasa lisan. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran berbicara senantiasa diawali oleh penggalian pengalaman berbahasa anak yang diungkapkan secara lisan, kemudian direkam ke dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk kaset. Hasil rekaman inilah yang kemudian dijadikan alat untuk pembelajaran berbicara. Dengan kata lain, pendekatan Pengalaman Berbahasa menganut pandangan belajar dari anak, untk anak, dan oleh anak.

Harapan dari pembelajaran dengan pendekatan seperti inii adalah pembelajar akan lebih berhasil manakala sejak awal si pembelajar meyakini dirinya mampu dan bisa melakukan sesuatu. Dengan bahan ajar yang digali dari siswa sendiri, siswa diharapkan lebih mudah memahami dalam pembelajaran. Dengan cara seperti ini siswa akan memiliki rasa percaya diri dan menganggap semua yang dipelajari adalah sesuatu yang bermakna (memiliki nilai guna).

Prosedur PBB dalam Pembelajaran Berbicara

Prosedur Pendekatan Pengalaman Berbahasa dalam pengajaran berbicara memiliki empat langkah sebagai berikut.

1. Mengidentifikasi minat, latar belakang pengalaman, dan fasilitas bahasa lisan anak.

Pada langkah ini, guru berdialog atau mengadakan percakapan ringan dengan anak. Misalnya bertanya tentang nama, kesukaan, tentang berita atau kejadian aktual di sekitar lingkungan tempat tinggal atau lingkungan sekolah. Langkah ini dimaksudkan untuk merancang dan membangkitkan skemata anak, sehingga dia dapat mengeluarkan pikiran dan perasaannya pada saat guru memintanya.

2. Merencanakan dan mendiskusikan pengalaman anak atau topik tertentu yang dipilih anak.

Langkah ini dimaksudkan untuk menggali pengalaman bahasa anak. Melalui rangsangan tertentu yang kemudian dijadikan topik diskusi, guru membimbing anak untuk dapat mengekspresikan pengalamannya melalui bahasa lisan.

3. Mencatat dan merekam bahasa (cerita) anak

Pembelajaran pada tahap ini, siswa menuliskan ataupun membacakan hasil tulisannya di depan kelas. Hal ini dimaksudkan bahwa bacaan-bacaan lain yang ditulis orang lain dihasilkan melalui proses yang sama seperti yang dilihat dan dialaminya pada saat itu.

4. Mengembangkan keterampilan anak sesuai dengan kebutuhan

Pada langkah ini, barulah pembelajran yang sesungguhnya dimulai. Berdasarkan hasil rekaman pengalaman berbahasa siswa, guru mengawali pembelajaran berbicara. Dengan cara membacakan ataupun memperdengarkan hasil rekaman pada siswa, guru mengajarkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan berbicara serta melatih keterampilan berbicara siswa sampai akhirnya siswa mempunyai keberanian dan keterampilan dalam menyampaikan gagasan, pendapat, ide, dan menceritakan kembali kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tertulis.

 

sumber : http://riapgsd.blogspot.com/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *