PGRI BONDOWOSO

MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL GURU

MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL GURU

Oleh : Nurkholis, M.Pd.

(Sekretaris Umum PGRI Kabupaten Bondowoso)

Seseorang memiliki kondisi mental dan emosional tergantung pada situasi dan kondisi yang tengah dihadapi. Hari ini orang terlihat gembira dan selalu tersenyum, bisa jadi karena dinaungi keberuntungan, kebanjiran rezeki, promosi jabatan dan sebagainya. Namun esok harinya bisa jadi karena tidak beruntung, dalam kondisi tertekan, kurang memperhatikan faktor kesehatan, dan sebagainya, kondisi mental dan emosionalnya menjadi tidak stabil. Kondisi yang demikian bisa membuat seseorang kurang terkendali, jauh dari tujuan hidup, serta bisa menimbulkan perilaku yang cenderung merugikan diri sendiri.

Era kehidupan modern seolah menjadikan manusia sebagai obyek yang dituntut selalu bekerja keras. Mobilitas dipertaruhkan untuk mencapai setiap tujuan. Tak hanya tenaga yang terkuras, tapi juga pikran. Pada saatnya akan sampai pada titik yang membuat seseorang dihampiri hal-hal yang mengganggu kondisi fisik serta kehilangan kejernihan berpikir.

Menjaga emosi agar tetap seimbang tidaklah mudah di tengah dunia yang penuh tuntutan hidup ini. Akan tetapi, kita dapat belajar menggunakan emosi kita sebagai radar yang dapat dengan segera menangkap sesuatu yang salah. Dengan mengarahkan emosi-emosi ini ketika mereka muncul akan membantu kita menjaga kehidupan di jalur fisik, mental, dan spiritual yang benar.

Seseorang yang dapat mengelola emosinya dengan baik artinya emosinya cerdas, hal ini lebih dikenal dengan istilah Kecerdasan Emosional. Sebuah bentuk kecerdasan yang melibatkan kemampuan memonitor perasaan dan emosi diri sendiri atau orang lain, untuk membedakan di antara mereka dan menggunakan informasi ini unutk menuntun ‘pikiran dan tindakan seseorang’. Kecerdasan emosional merupakan serangkaian kemampuan, kompetensi dan kecakapan non-kognitif, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan. Goleman menganggap kecerdasan emosional ini, sebagai inteligensi emosional. Sebuah kekuatan atau kemampuan mengenali perasaan-perasaan kita sendiri dan perasaan-perasaan orang lain, memotivasi diri dan mengatur emosi-emosi secara baik di dalam diri kita dan hubungan kita dengan orang lain.

Emotional Quotient (EQ) adalah kualitas yang sama pentingnya dengan Intellegence Quotient (IQ) untuk menentukan efektifitas hidup kita. EQ bisa membantu kita untuk lebih peka terhadap kesempata-kesempatan yang tersembunyi dan tantangan interpersonal. EQ bisa menjadikan emosi-emosi kita sebagai sumber informasi yang bermanfaat dan bahkan sebagai sumber kearifan, ketika dihadapkan pada gangguan-gangguan yang membingungkan, dan dengan cara tersebut, bisa meningkatkan kemampuan kita untuk sukses dan lebih tabah dalam menghadapi tekanan hidup.

Pekerjaan guru sebagai pendidik professional, yang selalu bersentuhan dengan manusia yang belum dewasa (peserta didik) dan manusia yang telah dewasa (teman, kolega, atasan dan unsur manusia dari stakeholder lainnya) tentu memiliki kompleksitas problema hubungan emosional. Hubungan ini tentulah penuh dengan tekanan-tekanan yang menuntut guru perlu dan harus memiliki kecerdasan emosional yang bagus untuk mengelolanya dengan baik dan stabil. Ada empat keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh guru untuk mengembangkan kecerdasan emosional, yaitu mengenali emosi, memahami emosi, mengatur emosi, dan menggunakan emosi.

Mengenali keadaan emosi dengan akurat menjadi keterampilan paling dasar untuk kecerdasan emosional adalah karena ketidakmampuan mengenali emosi, atau membedakan dengan benar satu emosi dengan yang lainnya, membuat semua keterampilan lain tidak berguna. Pengertian yang akurat tentang emosi akan menjadikan lebih banyak informasi yang akurat tentang evaluasi diri, yang selanjutnya dapat memberikan masukan tentang apa yang disukai, tidak disukai, atau yang bertentangan.

Keterampilan kedua yaitu kemampuan memahami emosi, diperlukan tidak hanya untuk mengenali emosi, tetapi juga mendapatkan pengetahuan yang berarti tentang emosi kita sendiri dan orang lain. Memahami emosi terdiri atas memahami penyebab emosi, memahami akibat emosi, dan memahami cara kerja emosi. Memahami penyebab emosi sangat berharga tidak hanya ketika emosi adalah emosi diri sendiri, tetapi juga ketika dirasakan orang lain. Sedangkan memahami akibat emosi akan memiliki manfaat serupa dengan memahami dampak emosi orang lain. Jika seorang guru memahami dengan baik terhadap akibat emosi, ia akan memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan siswanya dengan suasana hati yang baik. Orang yang memahami penyebab emosi, akibat emosi, dan cara kerja emosi dapat melihat gambaran keseluruhan lebih jelas daripada tidak. Melihat gambaran keseluruhan emosi sangat bermanfaat bagi organisasi – ketika ada leih dari satu atau dua orang terlibat, gejolak emosi semakin kompleks, dan pengertian menyeluruh terhadap proses emosi sangat diperlukan untuk melihat gambaran emosi yang sesungguhnya.

Keterampilan ketiga kemampuan mengatur dan mengendalikan emosi, akan membuat seseorang dapat melakukan lebih dari sekedar mengenali emosi dan mengetahui cara kerjanya, juga dapat memanipulasi dan mengendalikan emosi yang dialami pada tingkat tertentu. Menurut Davis, salah satu tanda kedewasaan seseorang adalah kemampuan menguasai diri, mengendalikan hasrat, keinginan, dorongan hati, dan emosi. Orang yang tidak mempunyai kemampuan ini sering dijuluki dengan istilah yang agak kurang terpuji. Misal, tidak dewasa, terlalu menuruti kata hati, irasional, kasar dan kenak-kanakan. Kemampuan mengendalikan emosi diri sendiri dan orang lain akan memudahkan kita bertindak dengan benar, walau mungkin tidak disenangi orang lain.

Kemampuan menggunakan emosi sebagai keterampilan terakhir, merupakan bentuk EQ yang lebih aktif daripada hanya sekedar mengenali dan memahami emosi. Penggunaan emosi adalah pengembangan alami terhadap pengaturan emosi, bahkan mengatur emosi benar-benar menggunakan emosi. Satu jalan di mana emosi dapat digunakan adalah meningkatkan kinerja dengan memperbaiki kemampuan untuk tetap tekun dalam mengejar beberapa sasaran.

Kecerdasan emosional guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, karena ternyata melalui pengembangan intelegensi saja tidak mampu menghasilkan manusia yang utuh, seperti yang diharapkan oleh pendidikan nasional.

Mulyasa (2008 : 162) mengemukakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan emosi dalam pembelajaran sebagai berikut : 1) Menyediakan lingkungan yang kondusif, 2) Menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis, 3) Mengembangkan sikap empati, dan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh peserta didik, 4) Membantu peserta didik menemukan solusi dalam setiap maslah yang dihadapi, 5) Melibatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran secara fisik, sosial, maupun emosional, 6) Merespon setiap perilaku peserta didik secara positif, dan menghindari respon negatif, 7) Menjadi teladan dalam menegakkan aturan dan disiplin dalam pembelajaran.

Dapat ditambhkan disini, berkaitan dengan pekerjaan guru sebagai pendidik professional di lingkungan pendidikan. Bagaimana guru dapat memahami pengaruh emosi pada seseorang dengan permasalahan yang muncul, maka bisa kita simak penjelasan Ginanjar Agustian (2006 : 226). Agustian mengemukakan bahwa ketika suatu permasalahan atau rangsangan muncul, maka secara otomatis radar emosi atau fungsi otak limbik, otak emosional atau amygdala akan merespon, tetapi respon itu seringkali tidak terkendali. Respon bisa bersifat positif atau negatif. Tujuan dari pengendalian diri adalah menjaga agar posisi emosi selalu dalam posisi nol, atau pada posisi stabil. Hukum yang berlaku di sini adalah rumus “aksi min reaksi”. Artinya, apabila rangsangan luar memberi energi +3, maka radar hati akan memberi respon atau tanggapan sebesar -3. Begitu pula sebaliknya, apabila ada tekanan atau tarikan sebanyak -3, maka radar emosi akan menanggapi sebesar +3. Tujuan mekanisme ini, agar radar emosi selalu tetap berada pada posisi nol atau netral.

Lebih lanjut Agustian menyatakan bahwa EQ, IQ dan SQ sangat berkaitan erat satu dengan yang lain. Apabila masalah datang, maka radar hati akan menangkap signal. Bila orientasinya pada materialisme, bukan pada “Tauhid”, maka emosi tidak terkendali, God Spot menjadi terbelenggu atau suara hati tidak memiliki peluang untuk muncul maka yang paling memegang peranan adalah emosi. Emosilah yang memberi perintah kepada sektor kecerdasan intelektual IQ. IQ akan akan menghitung, tetapi berdasarkan dorongan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, iri hati dan kedengkian. Sebaliknya, apabila masalah datang, radar hati menangkap getaran signal dan menyentuh dinding Tauhid, maka emosi menjadi terkendali, God Spot atau suara hati terbuka dan bekerja. Selanjutnya bisikan-bisikan mulia mendorong kecerdasan inteletual bekerja dengan optimal, yaitu sebuah perhitungan intelektualitas yang berlandaskan pada nilai-nilai keadilan, kejujuran dan tanggung jawab. (nkh).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *