PGRI BONDOWOSO

CERPEN SULAK BICARA

03.SULAK BICARA

Oleh
           Dien Soebari

Dien namanya, lengkapnya Dien Natali anak ABG berusia 12 tahun. Tepatnya lahir di kota kecil yang bernama Sukamaju 6 Desember 2008  menempuh pendidikan di sekolah di SD Sekardadi kelas 6.

Dien anak kedua Haryanto seorang pedagang buah di pinggir jalan depan salah satu SD di Kecamatan Sekardadi. Anak pertama Haryanto sudah menikah dan tinggal di lain desa. Ibunya, Aruni seorang Guru swasta Taman Kanak-kanak, bekerja di sekolah satu atap dengan SD Sekardadi.

Dien anak yang rajin, bawel dan sedikit centil. Kesukaannya pada anak kecil membuat Dien sering dititipi anak tetangga kalau lagi main. Tapi jangan sekali-kali berbohong pada Dien bisa-bisa jadi santapan ucapannya yang bawel.

Pernah lbu Niken menitipkan anaknya karena mau mencuci.

“Dien tungguin Mila dong.. bentar saja. Mau cuci nih Tante.”

“Iya boleh Tante,” jawabnya.

Mainlah dia dengan Mila. Beberapa waktu kemudian, Lama banget Tante Mila mencuci mana aku belum ngerjakan pr pikirnya.

Celingak celinguk tapi Tante Mila tidak nongol juga. Lantas dia menuntun Mila pulang, karena pintu depan dikunci lewatlah dia melalui gang samping rumah yang tembus di dapur. Kedengaran suara Tante Mila seperti sedang bicara dengan seseorang.

Ternyata Tante Mila sedang asik menelpon di dapur, memunggungi tidak melihat Dien datang.

“Tantee!” sambil menyentuh punggung.

“Tante! katanya nyuci kok nelpon,” gelagapan Tante karena kepergok.

“Eh Dien iya nih teman Tante nelpon.”

“Enak saja Tante nelpon, emangnya aku babysister apa seenaknya nitipin anak orang.”

“Ealah Dien..mana Mila.”

“Habis diambil orang.”

Langsung lari dia tanpa menghiraukan penjelasan, didengarnya samar Tante mengomel. Begitulah sifatnya kalau bicara, tegas dan lugas bahkan pada orang yang lebih tua sekalipun, kalau dirasa yang dikatakan benar.

Tapi banyak orang suka dengan sifatnya ini

Di balik sifat Dien yang bagus ada satu sifatnya yang kurang disukai oleh ayah dan lbu, sering membuat mereka jengkel, yaitu kalau di panggil atau disuruh –suruh dia tidak langsung berangkat. Beberapa kali Dien melakukannya membuat Ayah dan lbu gundah.

Kadang datang tapi ogah – ogahan. Ibu yang sibuk terkadang memerlukan bantuan, tapi tidak dihiraukan. Terpaksa Ibu pergi belanja sendiri karena tak ada yang membantunya.

Sebelum masa pandemi covid keadaan keluarga dalam menjalani kehidupan sangat baik, tapi semenjak adanya pandemi keadaan agak tergoncang karena ekonomi keluarga hanya bertumpu pada satu orang.

Jualan buah Haryanto tidak begitu lancar bahkan cenderung mati, karena sepi pembeli. Jangankan mau beli, mau keluwar rumah saja semua orang takut.

Yang jualan takut jualan dan pembeli takut membeli. Semua pasif menjadi pribadi v oleh wabah dan ini benar-benar tidak menguntungkan bagi keluarga Haryanto.

Ibu Aruni yang terkenal lemah lembut tetap tabah menghadapi situasi ini, untunglah dia mendapat TPP jadi ekonomi keluarga tetap lancar meskipun tidak sebagus dulu.

Tapi tidak dengan Dien. Uang saku yang jauh berkurang membuatnya tambah sulit kalau dimintai bantuan  ibu, dan hanya suka main game saja.

Setelah membicarakan dengan ayah, dan menyetujuinya, ibu lalu melanjutkan aksinya mengubah sifat Dien agar berubah. Ibu yang semula bersikap lemah lembut pada Dien sekarang agak menunjukkan  taringnya.

Ibu bilang sama ayah akan menunjukkan taringnya pada Dien.Trik jitu yang sudah dapat lampu hijau dari ayah.

Ternyata trik Ibu benar-benar manjur. Mau tahu model Ibu merubah Dien?. Seperti ini modelnya.

‘Dien belikan ibu garam.”

“Iya ibu.”

Satu menit berlalu, belum ada tanda langkah kaki jalan, atau suara. Masih asik dengan gawainya. Bermain game. Ibu masih sabar karena sibuk memotong sayur.

Tapi ketika waktunya memasak dan bumbu tidak lengkap Dien masih belum menampakkan batang hidungnya.

“Dieenn belikan ibu garam..”

“Sebentar ibu, nih hampir selesai.”

“Dienn….”

“Ya Buu….”

Tak ada langkah kaki yang terdengar hanyalah bunyi tut tut yang berbunyi cepat. Tanda permainan makin seru. Tapi ketika ada suara tut tut diimbangi dengan suara tok tok tok tok baru yang namanya kaki langsung lari menemui Ibu.

Tersenyum manis dan pegang tangan ibu.

“Beli garam ya Bu, mana uangnya,” hemm hampir saja.

Tapi itu cara termudah ibu ketika menyuruh dien beli-beli, ada lagi yang cara yang lebih ekstrim, karena memerlukan tenaga yang ekstra untuk melakukannya. Mau tahu cara Ibu menyuruh Dien.

“Dien belikan ibu beras.”

“Ya bu sebentar.”

“Dien belikan ibu beras.”

“Iya buu..Sebentar lagi selesai, tanggung nih.”

Dengan mengendap-endap Ibu datangi Dien dari belakang, nah ketahuan belangnya bukannya mengerjakan PR tapi sedang main game. Hemm Ibu dikibulin. Mantap sekarang ketangkap basah.

“Ooo..Ini yang namanya tanggung ya,” tentu saja dengan jeweran di telinga yang bisa bikin kuping mekar seperti bunga mawar.

Dan tahu jawaban Dien.

“Ampun bu, ampun,”

“Kamu bohongi ibu ya,”

“Enggak lagi Bu..Mana ibu mau beli beras ya,”

Rupanya jeweran telinga memang tidak enak, membuatnya merasakan panas dan telapak kaki sakit karena harus berjinjit.

Jeweran Ibu membuat saluran otak di kepala Dien menjadi lancar, buktinya pendengarannya semakin tajam jika mendengar suara Ibu.

Akhirnya ibu berhasil juga membuat Dien pergi belikan beras, walau dengan tenaga ekstra yang harus dikeluarkan. Lantas dengan perlakuan ibu yang keras pada Dien apa dia marah.

Tidaklah. Buktinya apa?.

Dien sekarang hati-hati kalau menerima panggilan dari ibu. Setiap ada suara ibu pasti tidak menunggu 2 kali dan langsung mendatangi. Siap 24 jam, begitu. Karena dia tau apa konsekwensi yang harus ditanggung bila dia tidak melakukannya.

Dien tahu beliau melakukannya bukan karena mau jahat, tapi ingin menjadikannya menjadi anak patuh, hormat dan bisa melakukan apa saja untuk bekal hidupnya nanti.

Ibu juga merasa senang dengan perubahan sikap Dien. Dan kasih sayangnya semakin tercurah untuk anak centilnya tersebut. Jadikan anakku Dien sebagai jalan menuju ridho-Mu  Yaa Allah. Doanya di setiap malam.

Aamiin.

1 komentar untuk “CERPEN SULAK BICARA”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *