PGRI BONDOWOSO

Tragedi Gerbong Maut Bondowoso

Tragedi Gerbong Maut Bondowoso
Oleh: Siti Mutawarridah, S.Pd

 

Stasiun Bondowoso sebagai saksi bisu tragedi “Gerbong Maut”. Tragedi berdarah-darah yang mengisahkan perjuangan masyarakat Bondowoso. Para pejuang gugur secara mengenaskan saat menjadi tawanan Belanda. Berjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan bumi pertiwi tercinta.
Tidak akan pernah terlupakan diingatan masyarakat Bondowoso. Tujuh puluh tiga tahun silam, tepatnya 23 November 1947. Puluhan orang tewas disekap dalam gerbong kereta barang. Peristiwa terjadi beberapa bulan setelah Agresi Militer Belanda I yang berlangsung pada 21 Juni 1947. Kuatnya gempuran-gempuran tentara Belanda, yang didukung persenjataan yang lebih canggih, membuat banyak pasukan pro-Republik berantakan (catat buku Monografi Daerah Jawa Timur – Volume 1-2 (1977).
Berawal dari penangkapan besar-besaran oleh Belanda, terhadap TRI, Laskar, gerakan bawah tanah, dan rakyat kecil, tanpa lagi mepedulikan apakah mereka terlibat dalam perjuangan, atau tidak. Mereka ditangkap secara membabi buta tanpa melalui prosedur. Sehingga ruang penjara di Bondowoso tidak mampu menampung para tahanan kurang lebih 637 orang. Belanda berinisiatif untuk memindah sebagian tahanan yang masuk “pelanggaran berat” dari Bondowoso ke surabaya yang berjarak sekitar 240 Km Pemindahan para tahanan menggunakan gerbong kereta barang. Pemindahan dibagi menjadi beberapa tahap. Sementara setiap tahap, kereta mengangkut 100 orang tahanan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *