PGRI BONDOWOSO

PIKIRAN MELAWAN PERASAAN

Penulis : KURDI, S.Pd.SD
GURU PINGGIRAN

PIKIRAN MELAWAN PERASAAN

 

      Dimanakah letak pikiran dan perasaan sebenarnya, dan bagaimana perlawanan pikiran dan perasaan dalam diri manusia? Hal yang harus kita sadari semua yaitu, hati berpikir secara emosi, dengan meluapkan perasaan yang  mungkin sulit dapat digambarkan secara Logis. Sedangkan pikiran lebih cenderung secara rasional dan praktis, disitulah kedewasaan manusia akan diuji bagaimana perkembangan kedunya mewarnai hidupnya.

       Pikiran dan perasaan sangat berbeda ibarat kopi dan gula, tentu saja kopi rasanya pahit sedangkan gula rasanya manis. namun bila keduanya berjalan harmonis dan  di kombinasikan menjadi satu, takaran yang seimbang begitu dinikmati saat kondisi hangat maka akan menimbulkan sensasi yang luar biasa nikmatnya, khusus pecinta kopi tentunya. Kita tidak akan membicarakan hal itu, akan tetapi bagaimana dasar analogi tentang kopi dan gula tadi?. Pikiran dan perasaan sebenarnya dapat sejalan. Asalkan kita tahu bagaimana memadukan keduanya. Sering kali kita menemukan kegagalan ketika  tidak mampu bagaimana mengendalikan pikiran karena kalah terhadap perasaan. Dan Sebaliknya, sering kali kita juga terlalu logis berpikir tanpa adanya perasaan.

       Kita dibuat bingung dengan istilah “Jangan menggunakan perasaan untuk berpikir atau sebaliknya berpikir menggunakan perasaan”. Ya karena memang kedua berbeda akan tetapi dapat saling mempengaruhi contohnya Dengan pikiran, kita mampu mengubah perasaan bersedih menjadi senang, rasa takut menjadi berani, sikap pesimis menjadi optimis, dan bosan menjadi penuh gairah. Seperti pendapat filosuf, Marcus Aurelius, hidup ini memang ditentukan pikiran.

    JIka kita  memikirkan hal-hal yang menyenangkan, maka secara otomatis kita cenderung akan merasa senang. dan jika kita memikirkan hal-hal yang menyedihkan, kita akan terbawa pada suasana kesedihan. Termasuk juga di dalamnya rasa takut dan sebagainya. setiap hari yang kita lalui, hidup tidak akan kita nikmati dengan baik apabila tidak mampu mengatur dan mengendalikan pikiran dan perasaan secara seimbang. Contohnya  disaat uang kita menipis. andai saja kita menguras pikiran dengan keluhan, tentu saja wajar kita akan merasa bahwa kita adalah orang yang paling apes. tetapi, kalau kita mampu mengisi pikiran dan perasaan kita dengan rasa syukur, maka percayalah kita tetap bisa menjalani hari-hari dengan baik dan akan lebih enteng.

     Jadi, pada intinya adalah mengendalikan pikiran dan Perasaan kita, akan tergantung bagaimana cara pandang kita dalam berpikir. Cara terbaiknya adalah dengan menanggapi segala sesuatu dengan pikiran dan tanggapan yang positif. belajar tersenyum saat bersedih, cobalah rileks santai saat banyak tekanan dan masalah. Daripada membiarkan diri terpuruk dalam kesedihan dan perasaan emosional tak menentu. Lebih baik bawa diri kita pada pikiran orang yang tangguh dan hidup pun akan lebih menyenangkan.

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *