PGRI BONDOWOSO

Eppak, Aku Menyayangimu dalam Diam

Eppak, Aku Menyayangimu dalam Diam

 

Rofika

SDN Kemirian 1 Kecamatan Tamanan

 

Eppak adalah ayahku. Ayah yang ku kenal akrab setelah aku dewasa, tepatnya setelah aku menikah. Eppak dan ibuku bercerai ketika aku masih teramat kecil. Perceraian itu membuat jarak antara Eppak dan anak-anaknya. Aku hanya tahu Eppak pergi meninggalkan ibuku dan tak pernah lagi ingat padaku. Tapi setelah dewasa aku mengerti bahwa sebenarnya itu hanyalah doktrin yang sengaja ditanamkan kuat-kuat di setiap kabel-kabel memoriku. Doktrin yang mencerminkan keegoisan. Entah untuk tujuan apa.

Eppak adalah sosok tinggi besar berkulit hitam. Konon, Eppak memiliki kesaktian, sehingga membuatnya disegani oleh orang-orang yang mengenalnya. Dia selalu berada di garda terdepan ketika di kampung ada pencurian. Menguber maling sampai ke tempat-tempat sepi. Tanpa kenal takut. Tak jarang duel terjadi antara Eppak dan para pencuri itu. Dan Eppak selalu menjadi pemenangnya. Tapi Eppak tak pernah menghakimi pencuri-pencuri itu. Eppak hanya mengingatkan dan sedikit mengancam agar mereka jangan lagi membuat kerusuhan di kampungnya. Itu sepenggal kisah yang ku dengar dari orang terdekat Eppak.

Namun, dibalik jiwa jawaranya Eppak memiliki kelembutan. Kelembutan yang bisa kurasakan hanya beberapa tahun. Dalam kebersamaan yang hanya sekejab. Di akhir perjalanan hidupnya aku bersyukur masih bisa menemaninya. Melihatnya terbaring lemah akibat penyakit yang menyerangnya. Menyaksikan kesakitannya yang teramat sangat hingga sampai meronta-ronta. Merasakan tatapannya yang menyampaikan sejuta makna. Memandangi raut mukanya yang menorehkan kasih sayang yang sempat terhalang. Saat itu, darahku yang berasal dari Eppak benar-benar memancarkan gelombang yang melemahkan jarak yang selama ini terbentang.

Saat ini jarak itu benar-benar nyata. Eppak telah pergi meninggalkan dunia fana. Menuju keabadian. Kepergiannya menorehkan luka yang hingga saat ini masih terasa perihnya. Menyisakan penyesalan panjang yang seringkali memaksa airmataku mengalir tanpa terasa. Menghadirkan kerinduan yang tiba-tiba datang menyesakkan dada. Dalam beberapa kesempatan, Eppak hadir dalam dimensi dunia lain, menghiasi mimpi-mimpiku. Menggandeng tanganku menyusuri imajinasi tanpa batas yang melenakan jiwaku. Aku seolah menjadi bocah manja yang selalu berlari menuju dekapan hangat tangan-tangan kekar Eppak. Bocah yang merasa nyaman dalam panggulan bahu Eppak yang kokoh. Kami bercengkerama dalam hamparan rumput hijau penuh bunga-bunga manis yang menggoda. Aku bahagia. Bahagia yang paripurna.  Meski setelah itu tangis pun pecah menghantam ulu hatiku ketika menyadari bahwa Eppak hanya baying-bayang semu.

Eppak, mohonlah pada Dia yang bersemayam dalam arsy-Nya, agar mempertemukanku denganmu. Mengumpulkanku denganmu dalam telaga birunya yang berhias permata yakut dan marjan. Eppak, aku pun akan selalu meminta dengan suara lirihku pada-Nya agar Dia mentakdirkan perjumpaanku denganmu, dalam lengkung bianglala yang mempesona. Eppak aku merindukanmu dan dalam diamku aku selalu menyayangimu. Allaahummaghfirlahu

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *