PGRI BONDOWOSO

MENDAHULUKAN MAKAN DARI SHOLAT

MENDAHULUKAN MAKAN DARI SHOLAT

 

Assalaamu’alaikum wr wb .

Saudaraku ..

Ketika dikumandangkan adzan, perut sudah keroncongan sejak beberapa jam lalu. Ketika itu pula, makanan telah tersaji. Apa yang harus kita dahulukan? Sholat terlebih dahulu ataukah menyantap makanan agar kita sholatnya akan lebih khusyu’?

Pembahasan kali ini adalah di antara kiat agar seseorang bisa khusyu’ dalam sholat. Simak selengkapnya.

Dari Anas bin Malik, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ

 

“Apabila makan malam sudah tersaji, maka dahulukanlah makan malam tersebut dari sholat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian .” (HR. Bukhari no. 672 dan Muslim no. 557)[Bukhari: 15-Kitab Al Jama’ah wal Imamah, 14-Bab Apabila Makanan Telah Dihidangkan dan Sholat Hendak Ditegakkan. Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 17-Bab Terlarangnya Mendahulukan Sholat Sedangkan Makan Malam Telah Tersaji dan Ingin Dimakan Pada Saat Itu Juga]

 

Pelajaran Berharga

Pertama; apabila waktu sholat maghrib telah tiba, sedangkan makanan telah tersaji, maka hendaklah seseorang mendahulukan santap makan -jika pada saat itu dalam kondisi sangat lapar-. Yang lebih utama ketika itu adalah mendahulukan makanan sebelum menunaikan sholat. Hal ini berlaku untuk sholat Maghrib dan juga sholat yang lainnya.

 

Kedua; apa hikmah di balik ini?

Hikmahnya: Di dalam sholat, seseorang perlu menghadirkan hati yang khusyu’. Sedangkan jika seseorang sangat lapar dan butuh pada makanan, kondisi semacam ini akan membuat ia tidak konsentrasi saat sholat, hatinya tidak tenang, dan pikiran akan melayang ke sana-sini. Kondisi semacam ini berakibat seseorang tidak khusyu’ dalam sholat. Oleh karena itu, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyantap makanan sebelum menunaikan sholat sehingga hati bisa hadir ketika itu.

 

Ketiga; hendaklah seseorang ketika sholat selalu menghadirkan hati dan menjauhkan diri dari segala hal yang dapat melalaikan dari mengingat Alloh ketika sholat. Hendaklah pula dia menghayati shalat, bacaan dan dzikir-dzikir di dalamnya.

Keempat; mayoritas ulama berpendapat bahwa mendahulukan makanan di sini adalah anjuran (sunnah, bukan wajib) dan inilah pendapat yang rojih (yang lebih kuat). Berbeda dengan pendapat dhohiriyah (Ibnu Hazm, dkk) yang menganggap bahwa hukum mendahulukan makanan dari shalat di sini adalah wajib.

 

Kelima; jika waktu sholat wajib sangat sempit, sebentar lagi waktu shalat akan berakhir dan seandainya seseorang mendahulukan makan, waktu shalat akan habis, untuk kondisi semacam ini, ia harus mendahulukan shalat agar sholat tetap dilakukan di waktunya. Inilah pendapat mayoritas ulama.

 

Adapun para ulama yang mewajibkan khusyu’ dalam shalat, maka mereka berpendapat dalam kondisi semacam ini, santap makan lebih didahulukan daripada sholat (walaupun sholatnya telat hingga keluar waktu). Namun pendapat yang lebih tepat, khusyu’ dalam sholat tidak sampai dihukumi wajib.

 

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah berpendapat bahwa hukum khusyu’ dalam sholat adalah sunnah mu’akkad (sangat ditekankan).

 

Keenam; santap makan lebih utama dari sholat dilakukan ketika seseorang sangat butuh pada makan (yaitu ketika sangat lapar). Namun jika kondisi tidak membutuhkan makan (kondisi kenyang) dan makanan telah tersaji, maka sholat wajib atau sholat jama’ah di masjid tetap harus lebih didahulukan.

 

Oleh karena itu, tidak sepantasnya seseorang mengatur waktu makan atau waktu tidurnya bertepatan dengan waktu sholat. Hal ini dapat membuat seseorang luput dari sholat di waktu utama yaitu di awal waktu.

 

Ketujuh; hukum mendahulukan sholat dari santap makan di saat kondisi sangat membutuhkan di sini adalah makruh. Namun jika seseorang dalam kondisi tidak butuh makan (kondisi kenyang) dan makanan telah tersaji lalu lebih memilih sholat, maka pada saat ini tidak dihukumi makruh.

 

Kedelapan; makanan yang telah tersajikan dan kita sangat ingin untuk menyantapnya, kondisi semacam ini adalah salah satu udzur (alasan) bagi seseorang untuk meninggalkan shalat jama’ah.

 

Ibnu ‘Umar yang sangat getol (sangat semangat) dalam mengikuti sunnah (ajaran) Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tetap menyantap makan malamnya dan pada saat itu dia mendengar suara imam yang sedang membaca surat pada sholat jama’ah.

 

Kalau seseorang meninggalkan shalat jama’ah karena ada udzur untuk menyantap makanan, jika ini bukan kebiasaan, maka dia akan mendapatkan ganjaran shalat jama’ah. Namun jika dijadikan kebiasaan, maka semacam ini tidak dianggap udzur sehingga dia tidak mendapatkan pahala sholat jama’ah. Alasannya berdasarkan hadits, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

 

“Jika seseorang dalam keadaan sakit atau bersafar (melakukan perjalanan jauh), maka dia akan dicatat semisal apa yang dia lakukan tatkala mukim (tidak bersafar) atau dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari no. 2996) [Bukhari: 60-Kitab Al Jihad was Sayr, 132-Bab akan dicatat bagi musafir semisal apa yang dia amalkan dalam keadaan dia tidak bersafar (mukim)]. Di sini ada udzur sakit, maka ia dicatat seperti melakukan shalat ketika sehat sebagaimana ia rutin lakukan. Maka begitu pula orang yang ada udzur telat sholat jama’ah karena alasan di atas, maka ia dihitung pula mendapatkan pahala sholat berjama’ah.

 

Kesembilan; apakah boleh menyantap makanan berat ketika berbuka puasa di bulan Romadhon atau yang lainnya?

 

Jawab: sebenarnya tidak mengapa jika seseorang mendahulukan makan. Namun alangkah lebih baik jika dia memakan makanan ringan seperti satu atau beberapa buah kurma, kemudian sholat maghrib, lalu dia menghabiskan makanan lainnya setelah sholat maghrib.

 

Demikianlah saudaraku semoga bermanfaat untuk kita bersama aamien .

 

Wassalaamu’alaikum wr wb .

 

Disusun oleh :

Ustadz H. Syamsul Arifin M, S.Ag .

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *