PGRI BONDOWOSO

GURU MAKAN GAJI MAHO

GURU MAKAN GAJI MAHO
(GAJI BUTA)

Curhatan dipagi hari….
By Andi Cahyono

 

Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarokatuh….

        Ijin curhat gu lagguh (curhat di pagi hari). Pagi ini saya pergi ke pasar, membantu istri membeli gula dan telur. Sesampainya di toko yang saya tuju, bertemu dengan penjualnya yang notabene sudah saya kenal, masih ada hubungan kekerabatan keluarga itu dari penjelasan ibu. Pembicaraan diawali menyampaikan apa yang akan saya beli. Saat itu suami pemilik toko, mengucapkan perkataan : “nyaman ye deddi pak guru, ngakan pesse maho” (enak ya jadi guru, makan gaji buta). Saya menanyakan pada dia, “napa maksodta ngakan pesse maho?” (Apa maksudnya dengan makan gaji buta?). Dia menjawab “iye, nyaman tak alakoh, tak ngajer paggun e bhâjâr” (ya, enak gak kerja, gak ngajar tetap di gaji..).

        Sedikit nyesek di dada, saya tetap rendahkan nada suara, dengan menjelaskan “kata siapa guru tidak bekerja, kami tetap masuk ke sekolah, tetap bekerja, tetap mengajar pada murid-murid”. Si suami masih berkata lagi :”neng e roma ngakan tedung paggun e bhâjâr” (enak hanya makan, tidur di rumah tetap dibayar dapat gaji) Istrinya ikut nimbrung sedikit mungkin mau bercanda “mara engkok berrik nginjem pesse mahonah” (ayo pinjamkan uang gaji butanya). Saya bilang dalam bahasa madura: ” jangan pinjam lek, karena ini uang gaji buta nanti gak berkah”. Perkataan mereka berdua tidak hanya saat pagi ini, sebelumnya juga pernah berkata seperti itu. Tapi kali ini perlu saya ungkapkan perasaan saya.

     Kejadian ini juga beberapa kali saya alami, terutama saat ke pasar dan bertemu dengan beberapa orang yang saya kenal. Maksud ada yg bercanda dan menyindir, entah apa pun maksud orang tersebut. Mungkin paradigma yang beredar di masyarakat, bahwa guru itu selama masa pandemi Covid 19 ini tidak bekerja, hanya bersantai di rumah. Mereka ada yang berfikir kami menikmati masa pandemi ini dengan bersantai ria bersama keluarga.
Padahal kami para guru tetap bekerja, tetap ke sekolah, tetap memberikan bimbingan belajar dan melaksanakan tupoksi lainnya.
Belajar dari kejadian ini, saya tadi hanya bisa mengelus dada, menahan diri, bersabar, sebegitu buruknya penilaian beberapa masyarakat terhadap guru. Padahal bukan kami para guru yang meliburkan para siswa ke sekolah, walaupun pembelajaran di sekolah saat ini masih dihentikan bukan berarti kami tidak bekerja dan tidak memberikan layanan bimbingan belajar. Kami tetap melaksanakan kegiatan belajar di rumah dengan ada yang media online (Daring) maupun memberikan bimbingan langsung secara berkelompok.

      Kami tidak hanya makan tidur saja di rumah menikmati masa pandemi ini. Kami juga tidak menginginkan situasi ini, bukan kami para pendidik. Jika pun diberi memilih kami lebih menginginkan pembelajaran langsung seperti biasanya di sekolah. Adakah teman-teman pendidik mengalami hal ini?
Jadi tolong kepada mereka untuk berhenti memberikan penilaian dan anggapan bahwa guru itu tidak bekerja, dan tidak mengajar sebagaimana mestinya.

Wassalamualaykum warahmatullahi wabarokatuh….

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *